Tami Ahda Syahida

Jangan Kau Perlihatkan


Jika suatu saat nanti, kamu bertemu seseorang, sebaiknya kamu menjaga bicara.
Semisal, ketika kamu orangnya sangat perhitungan untuk membeli suatu barang, jangan kau tampakkan kebingunganmu antara mau membeli atau tidak barang itu.
Karena akan ada beberapa orang yang akan mencibirnya. Mereka akan berkata-kata yang terkadang tidak membuat nyaman di telinganmu.
Padahal, kamu yang tau dirimu sendiri. Padahal, memang kamu sedang tidak punya banyak uang sehingga harus banyak perhitungan.

Begitu pula dirimu.
Jika ada orang yang mempunyai prinsip hidup berbeda denganmu, dia orangnya suka beli tanpa pikir-pikir, tahanlah lidahmu untuk tidak mengatainya.
Selama tidak kelewatan, dan dirasa tidak membahayakannya, tahanlah dirimu untuk diam.

Percakapan Siput dan Kodok

Pada suatu malam setelah hujan mengguyur alam,

Kodok  : Put, suatu hari nanti, jika kamu bertemu dengannya, apa yang akan kamu lakukan?
Siput    : Sebenarnya, aku memikirkan itu sudah lama.
Kodok  : Terus, udah ketemu jawabannya?
Siput    : Jika hanya ketemu di jalan, mungkin aku akan tersenyum saja melihatnya. Menyapa sewajarnya. Tapi, jika ada kesempatan untuk duduk bersama dua jam saja, aku ingin mendengar dia bercerita. Cerita apapun.
Kodok  : Kenapa begitu?
Siput    : Iya, karena cara dia bercerita itu bagus. Itu saja.


Menggurungkan Memberi Kado


Satu Tujuan Kopi. Itu adalah nama salah satu kedai kopi asyik di sekitar tempatku tinggal. Tempatnya remang-remang. Elagan. Dihiasi nuansa lampu kuning nan cantik. Tidak banyak pengunjung yang datang. Tidak banyak pula suara-suara yang bakal mengganggu ketenangan. Kufikir bukan karena tempatnya kurang menarik untuk dikunjungi. Melainkan orang kesitu sedikit berpikir duit yang mesti dikeluarkan untuk membeli satu cangkir kopi. 

Sudah lama aku ingin ke tempat itu. Sabar adalah kekuatanku. Aku perlu menunggu waktu ketika uangku agak berlimpah. Dan akhirnya waktu itu tiba. 

Sayangnya, ketika waktu itu tiba, aku sudah tidak begitu ingin kesana. Tapi, karena ada hal yang ingin aku bicarakan, aku memilih tempat itu, Satu Tujuan Kopi, untuk tempatku mengungkapkan perasaanku. 

Aku mengajak Sonia. Teman yang pernah aku ceritakan tentang kedai kopi itu. Dulu memang aku pernah berjanji untuk mengajaknya kesana. Selain itu, Sonia adalah temanku bekerja yang juga mungkin akan paham tentang perasaanku yang sedang kurasa. 

"Kau mau pesan apa, Son?"
"Caravan aja deh. Sepertinya lebih nikmat."
"Good choice, Son. Aku mau pesen cappucinno aja deh."

Lalu, kami pun memanggil waitress dan memesannya. 

"Eh Son, kemarin itu adalah ulang tahun Caca. Tanggal 25 Juni."  aku berbicara dengan hati-hati, tertata, dan pelan-pelan. 
"Oh iya? Terus kamu apain dia?", tanya Sonia.
"Tau ga sih, dari awal tanggal 1 Juni itu, aku sudah membeli kado buat dia. Rencanannya nanti aku juga mau membuat surprise kejutan buat dia."
"Tapi keknya kemarin ga ada apa-apa itu. Anteng-anteng aja pas hari ulang tahun dia."
"Nah itu dia. Aku jadi males untuk melakukannya. Bahkan sampai sekarang pun kadonya belum aku kasihkan ke Caca." aku menarik napas dan membetulkan posisi dudukku.
"Lah why?", mata Sonia melotot seolah-olah ingin tau sekali alasan sikapku yang aneh itu.

Aku menarik napas kembali. Aku tidak ingin tersulut emosi karena membicarakannya. Memang aku tidak suka padannya. Tapi, aku tidak ingin membencinya. Aku ibaratkan dengan tikus. Aku memang tidak suka tikus. Namun aku tidak pernah memasukkan tikus ke dalam perasaanku. Aku tidak membenci tikus. Aku tidak dendam terhadap tikus. Kalau sudah tidak melihat tikus, ya sudah aku tidak memikirkannnya. 

Aku tidak suka Caca. Parahnya ketidaksukaanku pada Caca mempengaruhi emosiku. 

Momen ulang tahunya rencana akan aku gunakan untuk menambal perasaan-perasaan tidak sukaku padanya. Aku sudah menyiapkan konsep begini dan begitu. Tapi, tingkahnya menjelang ulang tahunnya tiba membuatku mengurungkan niatku itu. 

"Dia begitu berisik akhir-akhir ini. Mulutnya selalu bicara. Nyaring banget suaranya. Di setiap kalender temen-temen di kantor, dia tulisin nama dia." aku mulai masuk pada inti.
"Iiiih...parah banget tu anak."
"Benar katamu. Dia itu terlalu self-center. Dia attention-seeker. Dia menganggap dirinya superior dan selalu merasa sudah tahu banyak hal. Akibatnya dia suka memandang sekelilingnya ga tau apa-apa. Tambahan lagi, dia kurang respect sama orang yang lebih tua darinya."

Kami berdua sama-sama menghela napas. Ghibah kami maksimal. Kami pun tertawa cekikikan dengan gaya kami yang biasanya menolak ngobrolin tingkah orang di kantor, namun kenyataanya kami pun juga ngobrolin tingkah orang. 

But wait. Malam itu tertiba Sonia mengungkapkan pemikiran langit yang tak pernah kusangka-sangka. 
"Yumna, itu aja manusia gitu ya. Gegara liat sikap ga baik, jadi ga jadi ngasih hadiah. Kalau Allah itu gitu ga ya?"
Glek. Aku terkesima dengan pemikiran Sonia.
"Maksudnya Son?"
"Contoh nih ya. Allah rencana mau ngasih kita jodoh nih. Tapi, gegara sikap kita yang tidak berkenan untukNya, maka jodoh itu dipending."
"Hahaahahahaahahahahhaha....analogimu ke jodoh ye. Tapi bisa jadi sih. Terkadang attitude kita yang menghalangi kita dari rejeki-rejeki itu."


*Hanya cerita fiktif belaka
*Solo, 18 November 2019

Andai-Andaiku

Andai aku dapat beasiswa untuk sekolah lagi.

Terima Kasih, Syauqi!


Siang itu mendadak suasana di kantor berubah. Fikiran dan konsentrasiku buyar. Aku merasa sangat insecure dan tidak bisa berfikir dengan jernih. Rasanya sungguh tidak enak. Sesak.

Sorenya aku mencoba untuk mengalihkan perhatianku untuk menyiapkan materi les privat. Namanya juga fikiran tidak tenang, aku tidak bisa berfikir nanti mau diajar seperti apa. Aku tidak bisa berfikir secara kreatif. Rasannya sungguh tersiksa. Akhirnya aku hanya ngeprint materi jadi dari internet, materi Bahasa Inggris SD yang sangat terpercaya.

Pas datang ngeles, aku sungguh tidak bisa konsentrasi. Fikiran ngeblank. Apalagi ternyata materi yang kusiapakan tidak berguna sama sekali. Kenapa? Karena ternyata ada jadwal ujian di pekan itu. Ditambah hari itu Si Uqi, nama murid privatku, baru bangun tidur. Belum full nyawanya terkumpul ketika kegiatan les dimulai. Jadi masih males-malesan. Tantanganku jadi makin besar.

Akhirnya, aku cepat-cepat membuat soal materi yang berkaitan dengan materi ujian Si Uqi. Aku diam sejenak. Mencoba mengumpulkan konsentrasi. Aku sayang Uqi. Tidak akan kubiarkan hari itu berlalu tanpa kegiatan yang bermakna. Akhirnya aku mulai menulis soal. Di lembar pertama, salah. Aku coret. Ganti lembar berikutnya, salah lagi. Aku sedih. Aku menarik napas. Aku tidak mau putus asa. Bergeming meminta pertolongan pada Allah. Mulai kubuka lembar berikutnya lagi. Bismillah. Cling. 

MasyaAllah. Ide itu mengalir lancar. Serasa ada invisible hand yang menggerakkan tanganku untuk menulis soal yang berbobot dan fun untuk Uqi. Tak terasa aku sudah menulis soal sebanyak 5 lembar. InsyaAllah cukup untuk waktu satu jam ke depan. 

Yeay! Uqi pun semangat mengerjakan soalnya. Dia selalu amazed pada dirinya sendiri ketika jawaban yang dia jawab benar ternyata. Dia pun senang ketika ada nilai 100 yang bertengger di setiap bagian soal. Uqi tertawa dan riang selama belajar pada malam itu. 

Rasanya hatiku langsuung gembiraa sekali. Dinding-dinding kekakuan dan batas-batas atau pagar-pagar dalam hati dan otakku luruh. 

Rasanya aku ingin memeluk Uqi, dan berkata "Uqi, terima kasih ya sudah menjadi murid yang riang malam ini!"

Karena Pagi Ini Aku Kaya



Karena kemarin aku miskin,
aku bersedekah 1/3 dari uang yang aku miliki.

Terus terus aku sebut nama Allah Yang Maha Kaya.
Aku sudah tidak bisa berfikir imbalan yang akan aku terima nantinya.
Saat itu, aku hanya bisa bilang sama Allah kalau aku sedang butuh uang.

Hatiku tenang.
Tak risau sedikitpun tentang nanti aku mau makan apa.

Hingga hampir penghujung malam tiba.
Aku pulang ngajar les privat.
Tiba-tiba yang punya rumah mengatakan,
"Ibu itu ada tambahan uang transport"

Meleleh hatiku karena jumlahnya 10x lipat dari uang yang aku sedekahkan kemarin pagi.

Untuk mensyukurinya, pagi ini aku membeli serabi untuk dibagi-bagi.
Bukan karena aku miskin,
tapi pagi ini aku kaya.

Alhamdulilah. 







Karena aku sedang miskin

Pagi ini aku berangkat lebih pagi.
Uangku tinggal dua pulun ribu.

Karena aku sedang miskin,
Aku pergi  ke pasar.
Aku beli kue pukis lima ribu. 
Pun aku juga beli kue gandos lima ribu.

Di kota ini,
sepuluh ribu sudah bisa beli 20 kue.

Jadi uangku tinggal berapa?
Kamu pintar.
Uangku tinggal sepuluh ribu.
Nanti akan aku gunakan untuk beli lauk buka puasa.
Nasi sudah aku masak dari rumah.

Buat apa kue itu?
Kamu kan puasa?

Karena aku sedang miskin,
aku akan membagikannya kepada rekan-rekanku.

Aku tidak peduli rumus dunia.
Yang aku pedulikan hanyalah rumus langit.