Tami Ahda Syahida

30 Hari Bercerita Day 18 (Berangkat ke Tanah Suci)


Malam itu aku bermimpi.
Aku dan kedua orang tuaku berkunjung ke tanah suci lagi. 

30 Hari Bercerita Day 10 (Tidak Usah Muluk-Muluk)


Tidak usah muluk-muluk. 
Sejatinya, kamu sedang belajar. 

Tidak apa-apa.
Luruskan saja niatmu. 

Dengan niat yang lurus, 
iman selalu kamu urus,
semuanya akan menjadi mudah.

Bersemangatlah. 

30 Hari Bercerita Day 9 (Tsabit bin Qais)


Ketika ada orang yang menolak untuk menikah karena alasan fisik, jangan menghakiminya ya.

Aku dulu seperti itu. Menghakimi pada kesan pertama kepada orang-orang yang menolak untuk dikenalkan dengan seseorang karena dia tidak cantik. Aku menyesal dengan sikapku itu. 

Bahwa menolak karena kita tidak tertarik dengan fisiknya itu sah-sah saja. 
Bahkan dulu, pada zaman Rasulullah SAW masih hidup, ada sebuah cerita tentang seorang istri yang meminta cerai karena suaminya tidak ganteng menurut versi sang istri. 

Begini cerita lengkapnya. 

Namanya adalah Tsabit bin Qais. Dia adalah salah satu sahabat nabi yang dijamin masuk surga (wiiih...). Beliau adalah khotib Nabi Muhammad SAW. Kalau Sang Nabi sedang tidak ada di tempat untuk memberikan khutbah Jumat, maka Tsabit bin Qais yang akan diminta untuk menggantikannya. (kereeeen kan). Konon kisah beliau ini ada di Surat Al Hujarat ayat 2 (Sumber info dari kajian Ustardz Nuzul Dzikri).

Nah Tsabit bin Qais ini mempunyai istri. Pada suatu hari, istrinya ini menemui Sang Nabi dan mengatakan "Ya Rasulullah, sungguh aku tidak menemukan ada kecacatan agama dalam diri Tsabit bin Qais. Dia sungguh sangat baik padaku. Aku takut aku kufur nikmat karena tidak dapat membalas kebaikannya. Aku tidak menyukainya."

Belum ada keputusan dari Sang Nabi. 

Lalu, pada suatu ketika istri Tsabit bin Qais ini berjalan-jalan melewati beberapa pemuda. Ketika melewati pemuda-pemuda tersebut, ia baru menyadari bahwa ternyataTsabit bin Qais itu orangnya hitam pekat kulitnya, dan paling pendek postur tubuhnya. Jika dibandingkan dengan pemuda-pemuda tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa Tsabit bin Qais ini tidak ganteng parasanya. 

Masalah selera itu adalah fitrah.

Lalu, Rasulullah akhirnya berkata "Silahkan kamu bercerai dengan Tsabit bin Qais."

Menolak fitrah membuat hidup tidak bahagia.

Jadi, mulai saat ini, apapun tindakan kita, apalagi yang itu sudah ditampakkan ke ranah umum, mudah-mudahan semuanya berlandaskan ilmu. 


30 Hari Bercerita Day 7 (Menarik)


Dulu aku mempercayai bahwa yang membuat menarik itu adalah cara berfikir, cara bersikap, dan cara berkomunikasi. Penampilan dan kemasan tidaklah penting.

Namun kini berbeda. Ternyata penampilan dan kemasan itu juga penting untuk menarik hatimu.

30 Hari Bercerita Day 3 (Mendengar)


Ketika seseorang tidak mau menjadi apa yang kamu mau, hentikanlah asumsi burukmu. Duduklah dengan tenang, pandanglah dirinya. Pahamilah dia. Sebab, dia pasti punya alasan. Meskipun alasannya itu tidak kamu mengerti dan tetap berseberangan dengan prinsipmu, baiknya kamu terus mengajak hatimu untuk berlapang dada menerimannya. 

Jadilah orang yang nyaman untuk mendengar.
Jadilah orang yang tidak menilai ketika mendengar. 

2020

2020: Boleh lelah, tapi tak boleh menyerah

Tahun Baru Tetap Belajar


Hari ini adalah malam tahun baru. Teman-teman kantorku banyak yang menghabiskan cuti mereka. Sepi dan aroma liburan kuat terasa. 

Aku masih sibuk bekerja. Bahkan harus lembur hingga malam dan masuk pada tanggal merah. Aku tidak bisa cuti sebab beban pekerjaanku masih banyak. Selain itu, alasan kuatnya adalah cuti tahunanku sudah minus. 

Aku baik-baik saja dengan keadaan itu. Toh liburan kali ini ponakan dan sahabat-sahabatku tidak ada yang pulang. 

Pada saat jam istirahat kantor, ada pesan WA masuk dari orang tua murid privatku, Ibu Yetti. Beliau menanyakan apakah aku bisa mengajar puteranya tidak untuk malam ini. 
Aku sontak kaget dengan WA Ibu Yetti. Tidak menyangka kalau anaknya akan les privat di tanggal 31 Desember dan di masa liburan sekolah mereka. 

Temen kantorku yang aku beritahu soal ini menyarankan aku untuk minta libur saja.

Namun, aku berfikiran lain. Aku suka dengan semangat dan kedisiplinan Ibu Yetti menuntut ilmu dan menjadikan anak-anaknya menjadi yang terbaik di kelas mereka. Selain itu, aku juga ingat dengan beberapa cerita Ustadz Nuzul Dzikri tentang bagaimana kesungguhan orang-orang terdahulu dalam menuntut ilmu. Bahwa para ulama terdahulu menghabiskan harta benda mereka agar dapat mendapatkan ilmu. Bahwa para ulama terdahulu rela menempuh jalan ratusan mil berjalan kaki untuk berguru. Dan bahwa para ulama terdahulu begadang mati-matian agar dapat memahami ilmu yang sedang dipelajarinya.

It's not about the result. But, it's all about your effort. 

Maka, dengan kesadaran penuh, aku akan mengajar di malam tahun baru ini.