19.09.2019

19.09.2019
Tanggal yang cantik bukan.
Dan itu adalah tanggal lahirku.

Umurku 30 sekarang.


Pakde Marpuji dan Bude Siti


Beliau adalah saudaraku. Pakde Marpuji Ali namanya. 

Sabtu, 14 September 2019, aku ada di PKU Muhammadiyah Solo untuk menemani beliau istri Pakde Marpuji Ali, Bude Siti Zulaikhah. 

Menjadi kehormatan bagiku untuk bisa dihubungi langsung, menjenguk, dan kemudian beberapa jam di kamar itu untuk menggantikan menunggui Bude Siti.

Satu hal yang membuatku trenyuh adalah sikap Pakde Marpuji merawat istrinya. Penuh sayang. Memperhatikan. Menyuapin. Memimpin doa sebelum minum obat. Dan saling mengingatkan untuk solat. 

Pemandangan yang adem.

Tidak mudah merawat cinta hingga tua. Kulihat, imanlah yang membuat mereka tetap bisa bertahan hingga bisa menua bersama.

Semoga Allah langgengkan cinta mereka.

It's Brand New Day

Hari ini adalah hari baru lagi. Setiap hari adalah babak baru lagi. Let go the past. Forgive your mistake. Be grateful and just think what you want. Focus on your goals. 

Menikmati Saat Ini


Menjenguk orang sakit adalah salah satu kegiatan yang aku bergairah melakukannya. Aku selalu teringat ceramah Rasulullah SAW pada suatu hari setelah solat fardhu. Beliau bertanya kepada jamaahnya empat pertanyaan (Siapa yang hari ini berpuasa? Siapa yang hari ini mengantarkan jenazah? Siapa yang hari ini memberi makan orang miskin? Siapa yang hari ini menjenguk orang sakit?). Abu Bakar adalah salah satu dari jamaah solat pada hari itu, dan Abu Bakar menjawab keempat pertanyaan tersebut dengan jawaban "Aku". Lalu, Rasulullah pun mengatakan "Tidaklah semua itu ada pada seseorang, kecuali dia pasti akan masuk surga". Cerita tersebut diriwayatkan oleh Muslim No. 1707.

Sebenarnya hari itu (Ahad, 1 September 2019) aku malas sekali untuk ikut pergi menjenguk saudara. Pertama, karena memang aku sedang ingin di rumah dan membaca buku serta sorenya aku harus mengajar anak-anak di Rumah Belajar. Kedua, tempatnya jauh sekali dari rumah, yakni di Weleri, Kendal. Membutuhkan waktu kurang lebih 2,5 jam melewati tol. Ketiga, Bapak mengajak untuk menggunakan mobil pick up-nya yang tidak ada AC sama sekali. Aku membayangkan panas dan tidak nyaman dalam perjalanan. Aku bingung. Maka, aku ambil wudhu dan istiqoroh untuk meminta petunjuk mana yang harus kupilih, di rumah mengajar dan membaca buku atau pergi untuk menjenguk. Kedua pilihan itu sangat berat. Pilihan pertama adalah orang yang sakit adalah beliau yang sangat baik kepada keluargaku. Pilihan kedua adalah anak-anak sedang semangat-semangatknya untuk belajar. 

Mobilnya Babe yang Tidak Ada AC.
Pfffffuuuuuuuf. Aku mengambil napas dalam-dalam. Memikirkan bobot bibit kedua pilihan itu. Lama sekali aku menimbang. Kurang lebih satu jam merenung di atas sajadah, akhirnya aku putuskan "Bismillah. Anak-anak diliburkan dulu."

Maka, setelah aku mengambil keputusan dan mengabari para orang tua anak-anak, aku langsung berfokus pada pilihan yang kupilih. Tidak ada lagi regret ataupun pikiran-pikiran akan anak-anak. Sudah harus fokus dan menikmati perjalanan ke Weleri. Termasuk juga tidak boleh mengeluh dengan panasnya mobil. Karena itu sudah menjadi konsekuensi pilihan. 

Oke. Bismillah aku berangkat. 

You know what. Hatiku pada hari itu tidak karuan. Pikiranku berputar-putar. Otakku semrawut kayak benang kusut. Dadaku sesak. Ada hal yang sedang kucari solusinya. Akhirnya, apa yang terjadi, aku tidak menikmati perjalanan waktu itu. Aku yang notabene suka perjalanan dan suka lewat jalan tol, saat itu aku merasa sangat berat melewatinya. Aku menarik napas dalam-dalam beberapa kali dengan harapan beban-beban pikiran itu ikut luruh. Sampai setengah perjalanan, pikiranku belum tenang juga.

Ahai. Akhirnya aku ingat sama buku yang kubaca terakhir ini. Bukunya Desi Anwar yang berjudul Faces and Places. Buku itu tentang catatan perjalanan Desi Anwar ke beberapa tempat dan menemui berbagai tokoh di dunia ini. Ada satu bagian yang mencuri perhatianku di buku itu. Aku lupa tepatnya chapter berapa. Desi bercerita tentang liburannya ketika Hari Nyepi. Dia pergi ke suatu tempat untuk bermeditasi. Dia keluar dari kehidupan normalnya di Jakarta. Dia melepaskan segala kepenatan dan dunia yang serba cepat yang ia biasa alami selama di Jakarta. Di tempat liburannya itu, dia diajari untuk fokus pada batin pribadi diri sendiri. Tidak memikirkan masa depan dan masa lalu. Dia diajak untuk menikmati suara angin dan daun yang berjatuhan. Ya, dia sedang diajak belajar untuk berada pada saat ini. 
Buku di beli di Gramedia dengan harga Rp. 10.000

Aku meniru Desi. Aku mengambil napas dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan. Aku mulai menengok kaca samping di sepanjang jalan tol Kartasura-Weleri itu. Pemandangannya indah betul bukan? Ada hamparan padi hijau yang kadang berundak-undak, dan kadang juga disusun mendatar. Disesuikan dengan kemiringan lahannya. Ada berbagai macam pepohonan dan bersabar menikmati teriknya matahari. Anginnya tidak besar, namun juga tidak kecil. Daun-daun bergerak-gerak lembut tertempa angin. Daun-daun jati terlihat banyak yang meranggas saking panasnya. Pegunungan berjajar-jajar indah yang sebagiannya sudah dikepras untuk dijadikan tol. MasyaAllah. Alam ini indah.

Alhamdulilah. Hatiku menenang perlahan. Kuncinya memang kadang tidak usah muluk-muluk. Tidak usah banyak rumit memikirkan masa depan, dan menyesali serta takut akan apa yang sudah berlalu. Cukup nikmatilah saat ini dan latihlah diri untuk berada pada saat ini.