Karena Pagi Ini Aku Kaya



Karena kemarin aku miskin,
aku bersedekah 1/3 dari uang yang aku miliki.

Terus terus aku sebut nama Allah Yang Maha Kaya.
Aku sudah tidak bisa berfikir imbalan yang akan aku terima nantinya.
Saat itu, aku hanya bisa bilang sama Allah kalau aku sedang butuh uang.

Hatiku tenang.
Tak risau sedikitpun tentang nanti aku mau makan apa.

Hingga hampir penghujung malam tiba.
Aku pulang ngajar les privat.
Tiba-tiba yang punya rumah mengatakan,
"Ibu itu ada tambahan uang transport"

Meleleh hatiku karena jumlahnya 10x lipat dari uang yang aku sedekahkan kemarin pagi.

Untuk mensyukurinya, pagi ini aku membeli serabi untuk dibagi-bagi.
Bukan karena aku miskin,
tapi pagi ini aku kaya.

Alhamdulilah. 







Karena aku sedang miskin

Pagi ini aku berangkat lebih pagi.
Uangku tinggal dua pulun ribu.

Karena aku sedang miskin,
Aku pergi  ke pasar.
Aku beli kue pukis lima ribu. 
Pun aku juga beli kue gandos lima ribu.

Di kota ini,
sepuluh ribu sudah bisa beli 20 kue.

Jadi uangku tinggal berapa?
Kamu pintar.
Uangku tinggal sepuluh ribu.
Nanti akan aku gunakan untuk beli lauk buka puasa.
Nasi sudah aku masak dari rumah.

Buat apa kue itu?
Kamu kan puasa?

Karena aku sedang miskin,
aku akan membagikannya kepada rekan-rekanku.

Aku tidak peduli rumus dunia.
Yang aku pedulikan hanyalah rumus langit.

Masa Kejayaan Jiwa


Malam itu, setelah pulang kerja, aku mampir ke sebuah studio foto.
Aku  mencetak fotoku bersama kedua sahabatku, Mari dan Metias.
Rencanannya akan aku pajang di meja kantorku.

Aku merindukan berkumpul dengan orang-orang yang satu visi dan satu frekuensi.
Aku merindukan jiwa-jiwa perindu surga.

Melihat foto itu, aku terpacu untuk melaju.
Juga aku terpacu untuk menjadi orang yang bermutu. 
Gambar itu seolah-olah berkata "Tami sayang, semangat ya. We love you. We support you."

Ada banyak cara untuk bangkit dan berjuang.
Ini adalah langkah kecil dan awalku.

Kalau kamu apa?