Jeda Berharap



Pagi itu aku bangun dalam keadaan antara sehat dan tidak sehat.
 
Badanku sehat, tapi tidak dengan kondisi mentalku. Yang kurasakan adalah gelisah dan sesak sekali dada ini. Seperti ada batu besar yang menindih hati. Seperti terkurung dalam ruangan yang amat gelap, pengap, dan hampa. Tidak enak dan segera ingin mengakhirinya.

When your mind and your soul is not good enough, mau ngapa-ngapain juga ga bisa sepenuhnya kan? 

Tapi aku tidak terus berhenti. Aku memaksa diri untuk bergerak. Menyetrika, memijit wajah, dan berdoa. Namun, yang namanya dada sedang bermasalah, berdoa pun rasanya juga berat dan tidak menyentuh hati.

Hari itu adalah hari pertama bulan September.

Ada ingin amat kuat yang belum terkabul. Keinginan yang besar dan terasa memaksa. Kubawa keinginan itu kemana-mana dan kapan saja. Keinginan itu menguasai dan membelengguku.

Apakah karena itu aku gelisah dan sesak? Aku diam sejenak. Menarik nafas. Kucoba pelan-pelan meletakkan keinginan itu. Meninggalkannya pada suatu tempat yang tidak perlu aku membawanya kemana-mana. Sengaja menaruhnya di tempat yang tidak mudah kulihat dan tidak mudah aku ingat-ingat. 

Ya. Meletakkan harapan. Terserah mau jadi apa harapan dan keinginan itu.

Dan ajaib. Sekejap setelah kuletakkan harapan itu, hatiku menjadi ringan. Aku bisa bernafas lega.

Akhirnya, aku tahu jawabannya. Jika sudah mulai berat dan tidak kuat, letakkan saja. Terserah nanti mau jadi apa. Yang penting, kamu sudah berusaha.
Be First to Post Comment !
Posting Komentar