Tami Ahda Syahida

Pesan Hangat

Hari ini hari keempat Ramadan 1442. 

Ada hal yang membuat hatiku merasa hidup. 

Yaitu pesan WA. 

Yang pertama adalah dari Safa, muridku. 

Yang kedua adalah dari Dita, sahabatku. 

 

"Bu Tami, negara yang dulu ingin Bu Tami kunjungi namanya apa?" tanya Safa. 

"Besok kita main kesana ya Tam." ucap Dita. 


Kelihatan biasa. 

Namun, kedua pesan itu datang diwaktu yang amat tepat. 

Kedua pesan itu membangkitkan harapanku. 


Doa terbaik untuk kalian, di Jumat berkah ini.


Memperbaiki Ekspektasi Calon Suami

Aku sekarang sedang taaruf dengan seseorang. Oh, bukan. Terlalu ketinggian kalau menggunakan istilah taaruf. Soalnya aku komunikasi dengan beliau via wa dan telp. Itu pun kadang ngobrolnya seperti ngobrol dengan teman. So, let me just call it as "proses kenalan". 


Kenapa tidak disebut pacaran? Oh, tidak juga. Kalau pacaran itu kan identik dengan adanya perasaan sayang antara kedua belah pihak. Kami belum sampai pada tahap itu. 


How did you meet here? 

Aku punya teman. Temanku itu sudah menikah. Suaminya adalah seorang guru di salah satu pondok pesantren di kota Klaten. Sebut saja namanya Ustadz Agus. Suaminya itu juga membimbing kelompok bapak-bapak pengajian. Salah satu bapak tersebut namanya Pak Joko (nama samaran). Pak Joko mempunyai anak laki-laki. Sebut saja namanya Oki, tentu saja bukan nama sebenarnya. Pak Joko meminta Ustadz Agus untuk mencarikan istri buat Oki. Lalu, Ustadz Agus meminta Oki untuk membuat biodata terkait dirinya. 


Singkat cerita, melalui perantara istri Ustadz Agus, biodata itu sampai padaku. Sungguh tidak ada masalah dengan biodatanya. Kriteria standarku terpenuhi. Lalu, kami pun bertemu secara fisik. Sudah dua kali, sejauh ini. Yang pertama, bersama-sama keluarganya. Yang kedua, cuma aku sama dia dan ditemani sepupu saya. 


Lalu?

Baiklah. Ijinkan aku bercerita ya. Jadi, ada dalam diri dia yang aku belum bisa menerima. Beberapa hal sepele yang aku belum bisa terima. Seperti kondisi fisiknya, contohnya. Entah mengapa, ketika bertemu dengannya, hatiku berkata bahwa dia bukanlah orangnya. Ketika berbincang dengannya, beberapa nyambung namun kenapa hal tersebut tidak bisa mengisi hatiku. Biasanya kan kalau kita habis melakukan percakapan dengan seseorang yang kita cocok denganya, ada perasaan lega dan hatinya itu terasa terisi penuh. Tetapi, dengannya, aku tidak bisa merasakan itu. 

 

Aku bingung. 

 

Oh ya, aku sepertinya juga melakukan ekspektasi yang berlebihan kepada calon suami. Seperti, harapannya suamiku mempunyai taste berpakaian dan tempat ngobrol yang sama denganku. Nyatanya tidak. Aku berekspektasi dia mempunyai ilmu agama yang dalam, namun nyatanya belum. Aku berekspektasi dia menjadikan Islam sebagai way of life, namun hal-hal kecilpun tidak dilakukannya. Aku berekpektasi suamiku itu merawat tubuhnya dengan baik, nyatanya belum. Aku berekspektasi dia mampu berkata-kata yang mampu mengisi jiwa, nyatanya juga belum. Aku berekspektasi dia mempunyai rumah dan mobil, nyatanya juga belum. Aku berekspetasi suamiku mempunyai tatapan mata yang tajam dan cerdas, nyatanya yang kutangkap adalah tatapan mata yang hambar. 


Akhirnya yang kudapat adalah perasaan tidak tenang dan kecewa. Ada yang salah? Tentu. Seharusnya aku tidak banyak berekspektasi tinggi-tinggi terhadap calon suami. Aku harus banyak mempersiapkan ketimbang menumpuk harapan duniawi yang amat tinggi. 


Materi yang disampaikan oleh narasumber di sebuah kajian SAMAWA yang aku ikuti tadi malam sungguh menohokku. Membuatku bertanya-tanya, apakah aku benar-benar siap menikah? 

  • Nyatanya aku belum siap menghadapi hal-hal yang ga terduga (pengetahuan agamanya dangkal)
  • Nyatanya aku belum siap untuk tidak mengendalikan sesuatu (nyatanya aku menyuruhnya untuk diet)
  • Nyatanya aku tidak siap belajar memahami perbedaan
  • Nyatanya aku tidak siap bekerjasama (tidak bersedia jika aku diminta juga menanggung nafkah)
  • Nyatanya aku belum bisa mengendalikan diri (aku marah-marah saat bertemu dengannya pertama kali gegera dia hanya mengajakku makan di warung soto)
  • Nyatanya aku belum siap untuk adaptasi dan menghadapi hal-hal baru

 

So, sekarang yang aku lagi lakukan adalah mengambil jeda. Kemarin-kemarin sepertinya aku sedang berada di jalur dan arah yang salah. Saatnya kembali pada jalan yang lurus. 


Bismillah.

Menjadi Ratu



Tetiba aku tu pengen jadi ratu coba. You know ratu kan? Kalau di Cambridge dictionary, ratu means adalah seorang perempuan yang mengatur negerinya sendiri, dan menikah dengan seorang raja. 


Ratu tidak bisa dibilang ratu kalau dia ga punya istana bukan?

Ratu juga tidak bisa dibilang ratu kalau dia juga ga punya a king bukan?


So, my wish jadinya satu paket. Aku pengen jadi ratu, pengen punya istana, dan pengen punya a king. In another word, aku pengen punya suami, dan punya rumah. Aku ingin diberikan job untuk mengatur rumah, memastikan semua anggota keluarga terpenuhi kebutuhan akan perasaan "rumah" dengan baik. 


Aku akan memasak. Aku akan mengisi lemari es dengan bahan-bahan makanan yang berkualitas. Semua sayur dan buah ditaruh di pack yang rapi. 

Dapur rumah didesain dengan amat bagus, sehingga dapur akan menjadi tempat favoritku. Masakanku akan sangat dirindukan oleh suami dan anak-anakku. 

Aku akan sering membuat camilan, untuk suami yang bekerja dan anak-anak yang sekolah. 

Ketika mereka bertingkah menjengkelkan, aku akan terus tersenyum karena kudapati luas hatiku seluas samudra. 


Semua perabotan rumah tertata dengan rapi. Bednya empuk-empuk seperti produk Informa. Sofa-sofa yang ada adalah sofa-sofa ternyaman penghilang lelah. 

Istana kami tidak besar, biasa saja. Cukup dengan lima kamar tidur, tiga kamar mandi, satu ruang tamu, dapur, ruang tengah, perpustakaan, dan beranda. Oh ya, gudang mungkin juga perlu. Parkiran mobil di depan untuk mobil setipe kijang innova reborn. 


Oh ya, di belakang rumah ada taman kecil. Aku akan mananam sayur-sayuran disana. 


Aku akan mencintai keluargaku sepenuh hati. Aku ingin menjadi sumber ketenangan dan kebahagiaan bagi mereka, suami dan anak-anakku. 


Aku bersyukur keinginan tersebut timbul. I feel alive. 

Mereka yang Kunanti




Ketika aku kerja di Solo, dua tahun setelahnya, tepatnya tahun 2017, aku berdoa sama Allah untuk bisa dapat kerjaan sampingan. Yang bisa kulakukan adalah privat bahasa Inggris, maka aku meminta itu.


Aku punya kriteria. Kalau bisa muridnya anak besar sehingga sekali pertemuan bisa dapat upah yang banyak. Ga rugi waktu. 


Lama tak ada jawaban. Hingga aku lupa pernah punya keinginan untuk mengajar privat.


Lalu, tahun 2019 akhir, salah satu teman kantorku mencari seorang guru privat bahasa Inggris untuk cucu temanya. Cucu temannya ini masih SD. Penawaran itu datang kepadaku. 


Aku udah lemes. What? SD? Yang aku bayangkan adalah fee yang sedikit. 


Battle of mind begin. Tapi kan dulu aku pernah minta untuk bisa ngeles bahasa Inggris. Ini sudah ada tawaran, meskipun tak sesuai harapan, masa aku mau nolak?


Uti si calon murid menghubungiku. Aku males-malesan jawabnya. Beliau memintaku untuk datang dulu ke rumahnya. Aku iyakan. Tapi sempet ada pikiran untuk tak datang. Kufikir, Sang Uti akan give up dan yaw sudahlah. Tappiii...beliau hub lagi akan kapan kedatanganku.


Waah, butuh banget berarti Sang Uti seorang guru privat buat cucunya. Well, aku memutuskan untuk datang akhirnya dengan niatan bukan mencari uang, tapi ngebantu Si Anak buat belajar. 


Aku sadar bahwa untuk tingkat SD, tak mungkin bisa menarik fee yang tinggi. Maka, aku akan menerima seadanya aja.


Sampe rumahnya, entah kenapa perasaan ogah-ogahanku berubah. Semua tidak seperti apa yang diduga sebelumnya.


Here we are. Safa dan Uqi.  Sudah hampir dua tahun kami bersama dengan segala senang dan duka dalam dunia belajar. Aku sangat bersyukur dan beruntung bisa menjadi gurunya. 

My Heart Is Full

Kak : Ada cerita apa hari ini, Tam?

Aku : I think my heart is full.

Kak : Why?

Aku : Banyak orang yang ngasih sesuatu ke aku.

Kak : Siapa aja?

Aku : Pagi-pagi sekali di kantor, namanya Bu Eka ngasih aku semacam kroket. Agak siang dikit ada yang ngasih kurma sukari dan kerupuk kesukaanku. Malamnya, ada sahahat nawarin mau belikan aku sepatu. 

Kak : Wow. Happy to know that.

Aku : Padahal sebelumnya, aku ngrasa tidak ada orang yang menyukaiku. 

Kak : Barakallah ya Tam.


Marugame

 


Kakak  : Foto di mana itu Tam?

Aku      : Marugame.

Kakak  : Wow. Tumben kamu makan di tempat begituan.

Aku      : In mission Kak.

Kakak  : Maksudnya?

Aku      : Itu foto semacam pembuktian gitu Kak.

Kakak  : Pembuktian apa?

Aku      : Bahwa aku punya pergaulan.

Kakak  : Dan baik-baik saja meskipun still single?

Aku      : That’s it.

Kakak  : Kamu emang kelihatan puas banget di foto itu.

Aku      : Hahaha. Tengkyu.

Lelaki yang Menyukai Paras Cantik, Mungkin Saja Bukan Jodohku

 

Source: Pinterest

Kakak  : Gimana Tam soal perjodohan kemarin?

Aku      : Seperti dugaan awal sih Kak, ga lanjut.

Kakak  : Hahaha …. Kamu sedih ga?

Aku      : Ga sama sekali.

Kakak  : Wow, kok bisa?

Aku      : Lah kan udah sering. Urat kesedihanku udah putus.

Kakak  : Daebak. Eh, kok kamu udah bisa menduga dia bakal ga lanjut?

Aku      : Dia itu polisi Kak. You know, mereka biasanya suka perempuan cantik.

Kakak  : True sih.

Aku      : Siapa aku kan.

Kakak  : Trus, klo tau gitu, napa kamu mau dikenalin?

Aku      : Semata-mata ingin menghabiskan jatah gagalku.