Tami Ahda Syahida

Tidak Tenggelam

Berat.
Tapi akhirnya kamu kembali bisa berenang kembali.
Tidak tenggelam.

Terima kasih untuk tidak berhenti.
Terima kasih unfuk tidak menyerah.
Terima kasih untuk tetap berjalan meski pelan.

The Time When I don't Like You, Tami

 

Lemah. Itulah dominan dari diriku mungkin. Ketika ada yang menenggelamkanku, maka aku akan tenggelam. Tidak seperti Nemo yang berusaha menyelamatkan diri, tapi aku terpuruk, terperosok dan tenggelam hingga tak punya daya sama sekali. 
No. You can't act like that. You have to love yourself, appreciate yourself, and be brave. 
Respect and value yourself. 

Non-Verbal Communication is Sometimes Warmer than Verbal Communication

Tadi aku pulang kerja sore. Biasanya kalau pulang, langit udah gelap, sekarang masih terang.

Aku menikmati perjalanan pulang sore tadi. Tidak tergesa-gesa. Tidak salip sana-salip sini. Bahkan ketika ada yang meminta jalan, maka aku persilahkan.

Tidak seperti biasanya. Sore tadi yang meminta jalan untuk menyebarang adalah seorang pemuda dengan sepeda ontelnya. Padahal jalanan padat. Tapi ia tetap saja permisi lewat. Kayuhannya kuat. Maka aku berhenti untuk mempersilahkannya lewat.

He looked so cool. Why? Bukan penampilannya. Tapi tentang sopan santunya. Cara dia berterima kasih karena diberikan jalan adalah dengan meletakkan tangannya disamping kakinya, lalu memberikan acungan jempol.

"Bagus. Terima kasih." Mungkin itu maknanya.

Aku terenyuh. Amat elegance sekali caranya berterima kasih. Tidak dengan melambaikan tangannya tinggi-tinggi, tapi dengan sederhana, apa adanya, dan mengena. 

Lalu seketika pula aku ingat tentang pelajaran kuliah waktu dulu. Seoarang dosen menjelaskan tentang non-verbal communication. 

Non-verbal communication adalah proses menyampaikan dan menerima pesan dengan tanpa suara, intonasi, kata-kata ataupun tulisam, melainkan dengan gerak-gerik tubuh kita, ekspresi wajah, ataupun badan kita.

Ya, orang yang bersepeda tadi adalah salah satu contoh orang yang sedang  melakukan non-verbal communication.

And you know what, entah kenapa, non-verbal communication itu kadang dirasa lebih dan hangat.

Titik Damai

Di titik ini, aku merasa saangat damai.
Alhamdulilah. 


Rekomendasi Penginapan Nyaman di Selo, Boyolali (D'Highland dan Omah Kita)

Setelah sepekan yang melelahkan, memang perlu kiranya untuk pergi ke suatu tempat yang quite far away  (but not too far) and quite quiet. Salah satu lokasi yang cocok untuk dikunjungi adalah Selo, Boyolali. Selo ini terletak antara Magelang dan Solo, lebih tepatnya adalah di lereng Gunung Merbabu. Bisa kamu bayangkan kan how calm it is. Sejuk, dingin, tenang. Sangat cocok untuk healing. Nah, jika kamu pengen menginap disana, nih ada dua penginapan yang oke banget untuk dikunjungi. Kubilang oke karena tempat mereka strategis. Dekat dengan apapun yang lagi nge-hits di Selo. 


1. D'Highland 

Kayaknya nih diantara beberapa penginapan di Selo, penginapan ini yang ter-paling. Ada glampingnya, ada villanya (yang satu rumah gitu, namanya Garden Hills), dan ada restorannya. Sayang sekali pas aku berencana menginap disana, semuanya full-booked. Akhirnya cuma bisa dateng ke restorannya aja yang namanya Kadung Tresno Kopi

Di D'Highland ini yang sering laku itu ini, Glampingnya. Cukup murah kawan, cukup 350k untuk dua orang. Fasilitasnya juga lengkap. Jika nambah satu orang, maka kena charge 100k. 





Oh ya, karena aku ga nginap sana, aku mau cerita aja soal restonya ya. Aku kesana itu sore hari dimana kabutya pada turun. Dingin, enak, tapi ruameeeny pool. Aku kudu ngantri agar bisa dapet tempat duduk. Tempat yang jadi favorit itu di rooftopnya karena mountain view. Look at my pictures below. 


Nah, kalau soal rasa sih jangan terlalu expect ya. Karena kan disini emang yang dicari bukan memanjakan lidah melainkan pemandangannya. Aku marasa biasa aja soal makanannya. Pas disana aku pesen rice bowl dan matcha. Enak sih matcha-nya, tapi rice bowl-nya blas ga ada rasa. 


Harganya pun ga terlalu mahal. Cocok untuk kalangan menengah ke bawah. 

Jelas ga? Ga jelas ya? Kkwkww. Oke. Jadi, harga minumannya itu kisaran 20-35k. Kalau makanannya start from 15K begitu. Satu orang minimal kalau ke sana itu ngeluarin 50k. Itu belum termasuk service tax-nya ya. 

Well gitu yang bisa aku share tentang D'Highland. Sekarang mau pindah ke Omah Kita. 

2. Omah Kita

Nah, waktu dikabari sama adminya D'Highland kalau kamarnya sudah habis, langsung kutanya tempat penginapan di dekat situ. Adminya baik, lalu ngasih rekomendasi di Omah Kita. Ya Allah, alhamdulilah masih ada kamar kosong di Omah Kita. 


Omah Kita ini letaknya cuma beberapa meter aja dari D'highland. Mungkin hanya sekitar 150 meter. Cukup dengan jalan kaki. Seneng kan. 


Tapi emang di Omah Kita harganya lebih mahal sih. Ada beberapa kamar disini. 


Aku nginep di kamar Bougenvile. Harganya 400K. Karena aku bertiga, maka nambah uang 100k (tanpa extra bed, kalau pake extra bed, tambah 50k). 

Kamarnya luas. Kasurnya gede dan emput. Kamar mandinya bersih. Ada air hangatnya. Nyaman deh pokonya. Aku yang kesana habis pulang kerja, langsung merasa lelah hilang pas merebahkan punggungku kesana. 

Ada kursi dan mejanya.

Ada coffee set, tea set, amnesties, dan air mineral.

Penampakan luarnya.

Tempat buat nyantai.

Restonya

Restonya

Begitu dulu review dan rekomendasi dari aku ya. Jaga hati, jaga diri. Jangan sedih berkepanjangan. Selamat berlibur. Semoga tulisan ini bermanfaat.






Kebiasaan Menyalahkan Orang Lain

Aku bekerja di sebuah institusi, an old institution. And old mind, as well. Karena ditempatku budaya saling bersaing itu masih kental terasa. Sebagai sebuah perusahaan, bukan bersinergi, melainkan ingin terlihat paling baik sendiri di tiap bagian, divisi, ataupun departemen. 


Menurutku, budaya bersaing yang masih menempel itu membawa kebiasaan untuk saling menyalahkan orang lain. Jika sedang ada masalah menerpa, maka pembicaraan itu cenderung mencari kambing hitam. Bahagia gitu kayaknya kalau melihat orang lain yang menjadi pihak yang tersalahkan. Mengutuki kegelapan, bukan menyalakan harapan. Bikin suasana negatif makin negatif kan? 


Padahal they are part of us. Jika ada bagian dari diri kita yang buruk misalnya, apakah kita akan membuatnya terpuruk? Gak kan. Menurutku lagi, mereka yang suka menyalahkan orang lain secara terang-terangan dan verbal adalah mereka yang tidak dewasa. 

Silent Days


Beberapa hari ke depan aku akan diam.
Sebab dengan diam aku merasa tenang.

Aku ingin hanya berdua dengan Yang Maha Kuasa. 
Merayu-rayu untuk mendapat cinta-Nya.